KataPengantar
Bicara tentang Buku, Musik dan Film

Des
17

Judul : Pergilah ke Mana Hati Membawamu
Penulis : Susanna Tamaro
Penerjemah : Antonius Sudiarja
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : April 2004
Tebal : 216 hlm.; 23 cm
ISBN : 979-22-0801-1
“Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau taktahu jalan mana yang harus diambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.” (PKMHM, hlm.215)Novel ini berkisah tentang Olga, seorang perempuan tua yang telah dua bulan ditinggalkan cucunya ke Amerika. Olga tidak mengetahui tempat cucunya berada. Sang cucu pun tidak mengetahui bahwa neneknya baru saja terkena serangan jantung dan kemungkinan hidup neneknya tidak lama lagi. Namun, Olga memutuskan untuk tidak meminta cucunya pulang. Ia malah menulis semacam buku harian yang berisi segala “pengakuan” tentang dirinya. Seluruh muatan batin yang terpendam diungkapkannya, baik kisah hidup, masa lalu, perasaan-perasaan, cinta, kekecewaan, kesepian, penderitaan, maupun penyesalannya terhadap cucunya. Olga berharap jika kelak cucunya pulang dan ia sudah lebih dulu meninggal dunia, sang cucu akan membaca buku hariannya tersebut dan bisa memahami dirinya.
Dengan alur flashback (kilas balik), Olga bertutur mengenai banyak hal: penderitaannya sebagai perempuan di tengah keluarganya; kisah pernikahannya dengan Augusto yang hanya dilakukan untuk mengikuti tradisi; tentang Ernesto yang merupakan kekasih gelap sekaligus cinta sejatinya; tentang Ilaria, putrinya, yang merupakan seorang pemberontak dan feminis radikal; tentang penderitaan ibu Olga dan neneknya yang berimbas pada pembentukan kepribadian Olga; dan kenangannya yang indah selama hidup bersama cucunya. Dengan sangat hati-hati, Olga menuliskan hal-hal yang sangat peka yang menyangkut hubungan-hubungannya di masa lalu, dengan cucunya dan dengan orang lain, dengan kejujuran yang diperhitungkan agar tidak membuat luka yang baru.
Olga memang sedang berjuang untuk bersikap jujur. Selama tujuh belas tahun, ia berbohong dan menutup mulut, mengenai percintaannya dengan Ernesto, mengenai ayah kandung Ilaria, serta mengenai ayah kandung cucunya. Karena sikap diamnya ini, Olga merasa dirinya pembohong. Akibatnya, Ilaria marah ketika Olga tanpa sadar memberitahu Ilaria mengenai ayah kandungnya, hal yang telah begitu lama menjadi rahasia Olga. Dengan menceritakan sebuah dongeng, Olga pun berbohong kepada cucunya bahwa ayah anak itu adalah pangeran dari negeri “Bulan Sabit” (Turki). Padahal, entah siapa ayah kandung sang cucu karena Ilaria sebagai seorang feminis radikal menjalin hubungan dengan begitu banyak pria. Saat ini, Olga merasa sudah tiba waktunya untuk mengungkapkan kejujuran itu kepada cucunya tercinta.
Perbedaan usia antara Olga dan cucunya sangat jauh sehingga perbedaan pendapat dan perilaku mereka sangatlah besar. Olga menganggap perbedaan di antara mereka sangat alami, seperti pohon yang sama, tetapi berbeda musimnya. Ketika cucunya masih kecil, Olga merasa bahagia sebab cucunya masih menyenangkan. Banyak kenangan indah dan mengharukan bersama cucunya yang masih tersimpan dalam hatinya. Namun, ketika sang cucu beranjak dewasa, kegembiraan dan ketenangan itu hilang. Di antara mereka muncul ketegangan yang sulit didamaikan. Karena itu, melalui buku harian berisi segala “pengakuan” yang ditulisnya ini, Olga memohon pada cucunya agar ia dipahami dan dimaafkan. Ia berharap cucunya tidak mengadili kesalahan-kesalahannya di masa lalu, tetapi mengampuninya. Ia berharap, pada akhirnya, cucunya dapat mengikuti kata hatinya sendiri, untuk pergi ke mana pun hati sang cucu membawanya.
*
Dalam keseluruhan isi novel ini, secara lugas dan manusiawi Tamaro mengisahkan Olga, seorang perempuan tua yang merasa telah begitu dekat dengan ajal dan khawatir tidak sempat bertemu dengan cucunya untuk mengakui segala hal yang terpendam dalam hatinya. Dengan menggunakan gaya naratif yang sederhana, Tamaro menggambarkan karakter para tokohnya secara teramat gamblang dan mendalam. Alur cerita mengikuti teknik penulisan surat yang panjang; sebuah pengakuan yang tenang dan mesra mengenai kehidupan, pengalaman, serta identitas si perempuan tua. Gaya narasi mengikuti irama buku harian dan merupakan deskripsi kehidupan sepanjang perjalanannya, dalam berbagai tahap melalui ingatan dan perasaan yang hidup dan masih segar, melalui penyesalan, kelembutan hati, dan cinta, juga kekuatan, kerapuhan, serta kesadaran seorang manusia yang selalu mencari kebenaran. Akhirnya, si tokoh dapat mendengar suara hati, satu-satunya yang bisa memberikan petunjuk yang benar kala menghadapi persimpangan pilihan hidup yang membingungkan dan menyesatkan.
Ketika novel Va’ dove ti porta il cuorePergilah ke Mana Hati Membawamu ini mendapatkan penghargaan Donna Citta di Roma dan menjadi best seller internasional pada tahun 1994, Susanna Tamaro telah menulis empat novel lainnya. Novel ini merupakan buku Italia terlaris abad lalu yang diangkat ke layar lebar pada tahun 1955 oleh sutradara Cristina Comencini. Di Indonesia, novel ini sendiri pada mulanya dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas. Mengutip ulasan Prof.Ostelio Remi, Direktur Pusat Kebudayaan Italia, Atase Kebudayaan Kedutaan Italia, Jakarta, di bagian Pengantar, novel ini memang sangat dianjurkan untuk dibaca oleh Anda yang memberikan ruang bagi hati untuk membuat pilihan dan ruang bagi perasaan dalam hubungan antarmanusia. Selain itu, novel ini pun memberikan pengetahuan baru mengenai perempuan dari sudut pandang yang berbeda-beda dan juga peran yang berlainan: perempuan sebagai seorang anak, seorang istri, seorang ibu, sekaligus seorang nenek.
Reviewer : Rosi
Iklan
Des
17

Judul : Birunya Langit Cinta
Penulis : Azzura Dayana
Penerbit : Qish-U
Tahun : Cetakan 2, Oktober 2006
Tebal : 388 hlm.
ISBN : 979-25-7410-7
Daiyah Khairunnisa alias Dey, dikenal sebagai seorang aktivis dakwah yang berprinsip. Ketika baru saja naik ke kelas 3 SMA Citra Negeri di Palembang, sahabatnya, Bella, berusaha menjodohkan Dey dengan Sir Fatah, guru Bahasa Inggris mereka yang baru dan masih muda. Dey tidak memedulikannya. Berbeda dengan Bella yang sering bergonta-ganti pacar, salah satu prinsip Dey adalah tidak berpacaran karena tidak ada konsep pacaran dalam Islam. Sir Fatah sendiri ternyata adalah lulusan pesantren di Jawa Timur yang sempat menjadi tenaga pengajar di beberapa pesantren. Ia pun pernah mengikuti studi pertukaran mahasiswa di salah satu Universitas Islam di Islamabad selama satu tahun.
Karena keadaan darurat dan tidak ada pilihan lain, suatu malam sekitar pukul setengah sebelas, Dey terpaksa berboncengan motor dengan Sir Fatah untuk pulang ke rumah. Ternyata peristiwa itu merupakan siasat Bella untuk menjodohkan Dey dengan Sir Fatah. Baik Dey maupun Bella tidak menyangka bahwa kejadian itu akan berakibat buruk. Di hari-hari berikutnya, Dey menjadi topik utama gosip terbaru dan terkejam di SMA mereka: ia sebagai anak Rohis diberitakan memiliki kedekatan istimewa dengan Sir Fatah, gurunya sendiri.
Lama kelamaan, Dey dan Sir Fatah sama-sama menyadari dan mengetahui bahwa mereka menyimpan perasaan yang sama, yaitu cinta. Cinta yang belum tepat waktu, yang belum halal di mata Allah. Keteguhan prinsip dan iman memaksa keduanya untuk berjuang mengendalikan perasaan itu. Keduanya lalu memutuskan untuk mengingkari perasaan masing-masing dan saling menjaga jarak. Itulah jalan satu-satunya ketika menikah menjadi pilihan yang sama sekali tidak mungkin terjadi. Hingga pada suatu hari, Dey merasa terguncang saat terdengar kabar bahwa Sir Fatah akan menikah. Dey berusaha untuk tidak memikirkannya dan memfokuskan diri pada persiapan ujian akhir.
Sebagai satu langkah dalam proses melupakan kisahnya dengan Sir Fatah, Dey memutuskan untuk kuliah di Bandung, tepatnya di Unpad. Dalam perjalanan dari Palembang menuju Bandung, Dey berkenalan dengan George alias Jo, seorang lelaki muda berambut agak gondrong yang merupakan teman sebangku Dey di bus. Jo berprofesi sebagai wartawan di Jakarta dan berumur beberapa tahun lebih tua dari Dey. Sepanjang perjalanan, dengan caranya yang unik dan sederhana, Jo berusaha menghibur Dey yang masih merasa kacau. Sebelum berpisah, Jo memberikan kartu nama adik perempuannya di Cirebon supaya Dey bisa menghubungi adiknya.
Sambil menunggu hasil tes SPMB, setelah bertualang ke tempat-tempat tertentu di Bandung, Dey pun berencana mengunjungi Alessandra alias Ale, adik Jo, di Cirebon. Sesampainya di Cirebon, Dey bertemu kembali dengan Jo. Di sana, Jo mengungkapkan isi hatinya bahwa ia bersimpati pada Dey. Kaget dengan pernyataan Jo, Dey segera pulang ke Palembang tanpa berpamitan terlebih dulu pada Jo. Jo mengejarnya, bahkan mengatakan bahwa ia akan menemui Hidayat, kakak Dey, untuk menunjukkan keseriusannya.
Ternyata Jo tidak main-main. Jo bertamu ke rumah Dey, menemui Hidayat, dan memberitahu kakak Dey itu bahwa ia memiliki misi untuk menjadi seorang muslim yang baik, cerdas, dan taat. Semua proses perbaikan diri itu dilakukan Jo terutama agar ia bisa melamar Dey di kemudian hari. Dey merasa bimbang, apalagi ketika mendengar kabar dari sahabat Rohis-nya di SMA, Deswita, tentang Sir Fatah yang tidak jadi menikah. Alasannya pun sangat mengejutkan, yaitu karena Sir Fatah memilih untuk berjihad sebagai panglima Allah ke negeri konflik Palestina. Ketika menghadiri pernikahan Hidayat, Dey bertemu lagi dengan Sir Fatah. Perjuangannya di Palestina ternyata telah menyebabkan Sir Fatah harus merelakan kaki kanannya.
Pada akhirnya, Dey diharuskan untuk memilih. Ia terjebak dalam lingkaran cinta tiga orang laki-laki: Jo, lelaki dewasa yang mapan dan serius memperbaiki diri untuk lebih dekat dengan-Nya; Reno, teman Dey di Rohis SMA dulu yang walaupun masih kuliah, tetapi telah memiliki pekerjaan dan siap menikah; serta Sir Fatah, masa lalunya yang kembali hadir kini. Siapakah yang akan Dey pilih?
*
Tentang cinta, memang ia adalah topik seumur hidup. Yang menjadi bagian terpenting dalam novel ini adalah pelajaran yang bisa diambil dari kisah hidup seorang Dey. Di kalangan aktivis dakwah, tidak jarang cinta pun bersemi sebelum waktunya. Kisah Dey menunjukkan bahwa para aktivis dakwah bukanlah tembok kokoh yang tidak berperasaan. Mereka adalah manusia dengan hati yang lembut dan bisa merapuh jika dihadapkan pada keadaan tertentu. Mereka pun merasakan cinta, menikmati cinta, tetapi mereka selalu memiliki cara untuk mengendalikannya. Mereka juga manusia, tetapi sebagai manusia yang memang tidak pernah lepas dari khilaf, mereka senantiasa memiliki niat dan tekad untuk selalu berjuang agar bisa tetap berada di jalan-Nya.
Novel ini adalah kumpulan dari kecintaan Azzura pada kota kelahiran dan kisah perjalanannya ke empat kota. Gadis yang turut membidani lahirnya FLP Wilayah Sumatera Selatan ini memang memiliki kegemaran jalan-jalan dan bertualang sendirian. Dengan keikutsertaannya dalam organisasi penulis nusantara dan mancanegara tersebut, minat dan bakat menulisnya mulai terasah. Pada 2003, ia berhasil menjadi juara ketiga Sayembara Penulisan Novel Remaja tingkat nasional Gema Insani Press 2003, dengan novel remaja berjudul Alabaster yang mengambil setting di Canberra dan Adelaide, Australia. Di akhir 2004, cerpen “Lampion” menyabet penghargaan terbaik kedua dalam Festival Kreativitas Pemuda yang diadakan atas kerjasama Creative Writing Institute, Direktorat Kepemudaan dan Diknas, serta dibukukan dalam antologi Dari Zefir sampai Puncak Fujiyama (CWI, 2004).
Seperti yang diutarakan Salim A.Fillah dalam sampul buku Birunya Langit Cinta ini, kisah Dey dan tiga orang lelaki dalam hidupnya ini memang senikmat susu coklat. Aromanya harum mewangikan cinta, gizinya memperkaya jiwa. Hangat, memikat! Bacalah, hiruplah keharuman aromanya, teguklah sedikit demi sedikit susu coklat yang penuh gizi ini, dan niscaya Anda akan bisa memaknai birunya langit cinta dari perspektif yang berbeda.
Reviewer : Rosi
Des
17

Judul : The Story of Jomblo
Penulis : Asma Nadia, dkk.
Penerbit : Lingkar Pena Kreativa
Tahun : September 2005
Tebal : 188 hlm.; 18 cm
ISBN : 979-3651-04-0
Sebanyak 13 buah cerpen dari 13 orang penulis tergabung dalam satu buku antologi cerpen pilihan ini. Berikut ini adalah ulasan singkat mengenai ketiga belas cerpen tersebut.
Asma Nadia menulis cerpen “Kasmaran!” yang berkisah tentang Jamal, pemuja gadis desa sebelah, Juleha. Saking cintanya pada Juleha, Jamal jadi lupa segalanya. Di benaknya hanya ada nama Juleha, Juleha, dan Juleha. Jamal tergila-gila pada Juleha sampai benar-benar nyaris gila. Keluarga Jamal pun memutuskan untuk melamar Juleha sang pujaan hati Jamal demi menghentikan kegilaan Jamal. Namun, pada hari H saat lamaran akan dilakukan, Jamal mendadak sakit. Akhirnya, Emak Jamal pun menemukan kebenaran yang tidak disangka-sangka di balik rasa cinta Jamal pada Juleha.
Sementara itu, cerpen “The Story of Jomblo” yang menjadi judul antologi cerpen ini ditulis oleh Aveus Har. Diceritakan mengenai Dipo, Roni, dan Vera, tiga orang anak muda yang menjalin hubungan persahabatan. Dipo dan Roni sempat memperebutkan Vera untuk dijadikan pacar, tetapi Vera memilih untuk tidak memilih keduanya. Setelah ditolak Vera, Roni mengaku bahwa ia telah memacari seorang gadis bernama Dewi. Untuk menjaga harga dirinya, Dipo pun mati-matian mencari pacar, hingga ia terpaksa melakukan kekonyolan yang membuatnya sangat tersiksa.
Cerpen “Srikandi Tidak Butuh Bunga” ditulis oleh Novia Syahiah. Cerpen ini berkisah tentang seorang pemuda trendi, Cakra, yang digemari banyak gadis. Kepercayaan diri Cakra selalu hilang jika berhadapan dengan Srikandi, seorang gadis berkerudung yang lebih tua beberapa tahun darinya. Cakra sadar ia telah jatuh cinta sepenuhnya pada Srikandi, tetapi ia tidak berani berterus terang. Sahabatnya yang tengil, Gilang, mengusulkan agar ia memberi Srikandi setangkai bunga dan puisi sebagai ungkapan cinta. Akhirnya, berbekal puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono dan setangkai bunga tulip biru, Cakra menemui Srikandi. Jawaban Srikandi mengagetkannya, karena yang dibutuhkan Srikandi bukanlah setangkai bunga, dan bukan pula seorang pacar.
Jazimah Al Muhyi dengan cerpennya yang berjudul “Penulis Terkenal” menceritakan kakak-beradik Reki dan Reka. Sang adik, Reka, masih duduk di bangku SMP, sedangkan sang kakak, Reki, merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir. Sudah lama Reka memendam keinginan untuk menjadi seorang penulis terkenal. Berbagai persiapan ia lakukan, mulai dari berfoto dengan pose yang bagus hingga membuat biodata. Ia pun meminta pendapat kakaknya untuk membuatkannya nama pena yang hebat. Padahal, belum satu pun tulisan Reka yang dimuat di media, bahkan belum satu pun tulisan yang dibuatnya.
Syamsa Hawa menulis “Hitam”, sebuah cerpen apik yang mengisahkan Nana, seorang gadis yang berkulit seperti orang negro. Kulitnya yang hitam selalu membuatnya rendah diri karena selalu menjadi bahan ejekan orang lain. Semua ejekan itu membuat Nana sangat tersinggung dan begitu sakit hati sehingga ia menyesali dirinya. Hingga pada suatu hari, ia bertemu Rita, teman sekelasnya di SMP yang kini satu SMA dengannya. Tubuh Rita yang pendek dan mungil, ditambah jilbab lebar yang menutupi tubuhnya, membuat teman-teman Rita menyebutnya “karung goni” dan “cebol”. Anehnya, Rita tetap tersenyum dan tidak membalas ejekan-ejekan itu. Hal ini membuat Nana merenung dan membulatkan sebuah tekad yang mengubah semuanya.
Hilman Hariwijaya melalui cerpennya yang berjudul “Si Pecundang” mengedepankan Sanjay, anak Betawi yang bekerja sebagai wartawan freelance di salah satu tabloid. Babe Sanjay memberitahunya bahwa ketika Babe masih muda, ia telah berikrar pada Haji Sueb, saudara angkat Babe, untuk menjodohkan anak-anak mereka kelak. Sanjay langsung menolak perjodohan a la Siti Nurbaya itu, padahal ia sama sekali belum melihat calon jodohnya. Disangkanya anak gadis Haji Sueb adalah seorang gadis kampungan yang tidak pantas untuknya. Lagipula, Sanjay sedang mengincar Mira, gadis cantik yang mewawancarainya perihal cerpennya. Cerpen Sanjay memang menjadi juara pertama Lomba Penulisan Cerpen di tabloid tempat Sanjay bekerja. Masalah lain muncul saat ada surat pembaca yang mengkritik bahwa cerpen tersebut adalah jiplakan dari sebuah film Cina. Sanjay semakin kalang kabut.
Cerpen “Sepatu Kaca” yang ditulis oleh Fahri Asiza bermuatan dongeng bercampur mistis. Dongeng di zaman modern ini mengisahkan dua orang sahabat, Gus Dol dan Giman. Keduanya adalah orang-orang kampung yang nekat menaklukkan Jakarta. Di kota ini, Gus Dol bertemu Jumilah, seorang penjual jamu gedong berusia 17 tahun yang berasal dari daerah yang sama dengan Gus Dol, hanya berbeda desa. Gus Dol berkeinginan menikahi Jumilah. Giman mengusulkan agar Gus Dol mencari sepatu kaca, lalu bertapa di pinggir kali untuk mendapatkan petunjuk dari dedemit agar ia bisa kaya dan menikahi Jumilah. Gus Dol menurut, tetapi pada akhirnya ia tersadar bahwa hidup di dunia nyata bukanlah seperti hidup di negeri dongeng.
Rahmayanti lain lagi. Dalam cerpen berjudul “Duh, Deni…”, ia mengisahkan Deni, seorang anak keturunan Jakarta-Minang, melalui sudut pandang kakaknya. Karakter Deni yang jujur, cenderung asal, cuek, dan apa adanya, sering membuatnya terkena masalah. Bahkan, tidak jarang kejujurannya yang sangat apa adanya malah membahayakan dirinya. Misalnya, ketika terjadi tawuran antarpelajar, Deni turun tangan membela seorang pelajar yang dikeroyok. Akibatnya, ia terkena pukulan salah seorang pelajar. Begitulah Deni, apapun yang dianggapnya salah akan segera dikritiknya. Hingga pada suatu hari, terjadi satu peristiwa yang nyaris menghilangkan nyawanya.
Dengan cara bertutur yang puitik khas Gola Gong, cerpen “Kenangan yang Tertinggal” menjadi satu cerpen yang “berbeda”. Cerpen ini bercerita tentang Buyung, anak bungsu seorang juragan tanah, yang sangat mencintai seni. Padepokan seni yang dibangun di atas tanah ayahnya akan diratakan dengan tanah dalam proyek pembuatan jalan bebas hambatan. Padahal, padepokan seni itu adalah tempat Buyung dan teman-teman teater sekolahnya berekspresi sejak lima tahun yang lalu. Karena tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah proyek itu, Buyung tinggal di padepokan hingga proyek itu dimulai, sambil mempersiapkan sebuah naskah teater. Naskah tersebut melukiskan rasa kehilangan Buyung yang teramat sangat, yang akan dipentaskan pada malam perpisahan di sekolahnya.
Cerpen “Primadona Sekolah” karya Asa Mulchias menyindir para ABG korban mode dengan satu kisah ironis. Awalnya, bisa dikatakan seluruh kaum Adam di sekolah memuja Nona, gadis kaya yang cantik, modis, dan memesona. Tiap hari ada saja cara Nona untuk selalu tampil up to date dalam penampilannya. Ia tidak peduli dan tidak takut pada peraturan sekolah, malah ia membujuk teman-temannya untuk menjadi seperti dirinya. Tiga orang temannya, Yosi, Wanda, dan Hilda, terbujuk dan mengikuti style Nona. Berbeda dengan Gayatri, gadis udik anak buruh pabrik, yang harus dibujuk berkali-kali agar mau mengubah penampilan culunnya. Ketika pada akhirnya penampilan Gayatri berubah, Nona dan tiga orang temannya sama sekali tidak menyangka apa yang akan terjadi.
Cerpen “Ini Mudikku (Lebaran bersama Pembantu Tercinta)” karya Boim Lebon menceritakan hubungan Diana, anak kelas 3 SMA yang berasal dari keluarga kaya, dengan Mbak Inem, pembantunya. Selama ini, karena kesibukan orang tuanya, Diana dan orang tuanya hanya bisa berkumpul bertiga satu hari dalam setahun, yaitu pada hari Lebaran. Di hari-hari biasa, Diana selalu ditemani para pembantu atau bermain dengan teman-temannya di luar rumah. Namun, ada yang berbeda dengan Ramadhan kali ini dengan kehadiran Mbak Inem. Pembantunya yang satu ini begitu perhatian pada Diana seperti memperhatikan anaknya sendiri. Hal ini membuat Diana memutuskan untuk menemani Mbak Inem mudik ke kampung halamannya untuk merasai pengalaman baru.
Sakti Wibowo dengan cerpen “Surat Cinta buat Spiderman”-nya bercerita tentang Nicky, seorang aktivis dakwah kampus, dan seseorang yang misterius yang sering mengiriminya surat cinta. Si pengirim surat cinta ini mengaku bernama Dewa, dan ia selalu mengkritik Nicky secara tidak langsung tetapi tepat sasaran melalui surat-suratnya. Kritikan Dewa membuat Nicky melakukan introspeksi sehingga ia mulai memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Ia mulai lebih memperhatikan kerapihan dan keserasian baju yang dipakainya saat berdakwah. Nicky tersadarkan bahwa dalam berdakwah tidak cukup jika hanya didasarkan pada semangat saja, tetapi juga harus memperhitungkan daya pikat yang dipakai. Sayangnya, Nicky masih belum bisa menebak siapa gerangan si misterius Dewa.
Berbeda dengan kedua belas cerpen lainnya, cerpen penutup yang berjudul “Dua Puluh di Enam Lima” karya Fera Andriani Djakfar ini mengambil latar di Kairo, Mesir. Ketika hendak pulang ke asrama, dua orang gadis asal Indonesia, Tika dan Widya, tidak mendapatkan tempat duduk di bus Enam Lima. Akibatnya, mereka harus berdiri selama dua puluh menit perjalanan pulang. Di depan mereka, duduk seorang pemuda Mesir berkacamata hitam yang belum juga mempersilakan mereka menempati tempat duduknya. Hal ini membuat keduanya kesal dan bergantian mengumpat dalam bahasa Indonesia tentang ulah tidak sopan si pemuda. Mereka belum menyadari bahwa baru dua puluh menit di atas bus Enam Lima, tetapi lisan mereka sudah tidak bisa terjaga.
Saat membaca, Anda mungkin akan kerepotan menghadapi berbagai suasana yang berganti-ganti, karakter-karakter yang hidup dan menyapa Anda dengan lincahnya, serta peristiwa-peristiwa yang akrab dengan kehidupan Anda sehari-hari. Namun, kerepotan itu benar-benar akan menghadirkan kenikmatan tersendiri. Kisah-kisahnya layak dibaca semua orang, terutama para remaja yang sedang dan akan terus mencari jati diri. Membaca antologi cerpen ini seperti mengarungi samudera hikmah takberujung. Selalu ada saja pelajaran yang bisa dipetik, nasihat yang menusuk hati, humor yang tidak membodohi, dan teguran yang membuat Anda sejenak terdiam untuk mengintrospeksi diri.Reviewer : Rosi
Okt
24

Judul : Perempuan Suci
Penulis : Qaisra Shahraz
Penerjemah : Anton Kurnia dan Atta Verin
Penerbit : Mizan
Tahun : Cetakan 1, Agustus 2006
Tebal : 520 hlm.
ISBN : 979-433-406-5

Perempuan Suci adalah novel pertama Qaisra Shahraz yang ditulis pada tahun 2001 dan meraih penghargaan Jubilee Award pada tahun 2002. Novel ini mengisahkan Zarri Bano, seorang perempuan Muslim yang cantik jelita, cerdas, percaya diri, dan modern. Ia adalah putri sulung Habib, seorang tuan tanah feodal yang memiliki kekayaan berlimpah dan keluarganya berasal dari kasta tertinggi. Begitu banyak orang tua yang melamar Zarri Bano untuk anak laki-laki mereka, tetapi tidak ada satu pun yang diterima oleh Zarri Bano. Suatu ketika ia bertemu dengan Sikander, seorang pengusaha kaya, laki-laki yang memikat hatinya pada pandangan pertama. Sikander pun merasakan hal yang sama terhadap Zarri Bano. Keduanya saling jatuh cinta. Saat Sikander melamarnya, Zarri Bano menerimanya dengan sangat senang hati.Takdir berkata lain. Jafar, adik lelaki Zarri Bano, mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Padahal, Zarri Bano dan Sikander baru saja berniat menyatukan tali kasih mereka dalam ikatan pernikahan. Kematian Jafar menyebabkan Habib, sang ayah, memaksa Zarri Bano menjadi Shahzadi Ibadat (Perempuan Suci). Ini berarti ia tidak boleh menikah karena satu-satunya yang boleh ia nikahi adalah Al Qur’an. Ia wajib mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Tuhan, semacam biarawati. Ia akan menjadi seorang ulama Islam, seorang guru moral dan keagamaan bagi ratusan perempuan muda di kota dan daerahnya, seorang perempuan yang menjadi simbol kesucian dan ibadah dalam bentuk yang paling murni.

Keputusan Habib membuat Zarri Bano terguncang. Awalnya, Zarri Bano menolak menjadikan dirinya Perempuan Suci. Ia ingin hidup sebagai perempuan normal yang menikah dan memiliki sebuah keluarga. Apalagi, selama ini ia adalah seorang perempuan Muslim yang cenderung mengabaikan agama, bahkan hampir tidak pernah memakai tutup kepala dengan benar. Namun, didasari rasa hormat pada ayahnya, akhirnya Zarri Bano tidak kuasa menentang keputusan itu. Ia lalu dinobatkan secara resmi sebagai seorang Perempuan Suci. Dengan berat hati, ia “mematikan” Zarri Bano yang lama dan berusaha “membunuh” rasa cintanya pada Sikander. Yang lebih menyakitkan, dalam puncak kecewanya, Zarri Bano harus menerima kenyataan bahwa Sikander malah mengawini Ruby, adik Zarri Bano. Selama bertahun-tahun, kesedihan, amarah, dan perang batin Zarri Bano tersembunyi rapi di balik burqa* hitam yang membungkus tubuhnya, dan membatasinya dengan dunia luar.

Selain kisah Zarri Bano, terdapat pula kisah lainnya di novel ini, yaitu kisah permusuhan antara seorang chaudharani (nyonya tanah atau istri tuan tanah) yang angkuh bernama Kaniz, dan Fatima, pelayan keluarga Zarri Bano. Chaudharani Kaniz mendendam pada Fatima karena selalu dibayang-bayangi peristiwa yang terjadi di masa lalu mereka. Suami Kaniz, Sarwar, dulu melamar Fatima, tetapi Fatima menolaknya. Kaniz membenci Fatima karena akibat penolakan itu, Kaniz selalu merasa menjadi perempuan pilihan kedua Sarwar. Malang bagi Kaniz, putra semata wayangnya, Khawar, justru jatuh cinta pada Firdaus, anak Fatima. Konflik semakin meruncing. Harga diri Kaniz dipertaruhkan di sini, antara mengenyahkan kebencian demi kebahagiaan putranya, atau terus berkubang dalam lumpur pekat masa lalunya.

***

Istilah Shahzadi Ibadat merupakan istilah yang diciptakan oleh Qaisra Shahraz untuk mempertegas “tugas” Zarri Bano. Usaha seorang ayah untuk memingit putrinya ini adalah sebuah tradisi kuno di Pakistan, khususnya di Sindu. Tradisi ini terjadi dari generasi ke generasi pada kelas masyarakat tertentu yang memiliki pengaruh amat besar pada masyarakat sekitarnya. Kaum perempuan mereka hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki kemerdekaan atau otonomi. Berikut penjelasan Zarri Bano pada Sikander mengenai tradisi ini.

“… tradisi kami mengenal seorang Perempuan Suci dan ahli waris keluarga kami. Saat satu-satunya ahli waris laki-laki meninggal dunia, di keluarga besar kami, warisannya, dan khususnya tanah-tanahnya, akan diturunkan kepada ahli waris perempuan berikutnya. Perempuan itu disyaratkan tidak akan pernah meninggalkan rumah ayahnya. Akibatnya, dia tidak bisa menikah. Untuk mengesahkan keadaan ini, moyang kami menciptakan status seorang Perempuan Suci, seorang Shahzadi Ibadat. Itu adalah sebuah ukuran bagi laki-laki seperti ayahku untuk memastikan tanahnya tetap menjadi milik keluarga.”

(PS, hlm.184)

Shahzadi Ibadat dapat dikatakan sebagai sebuah tradisi yang mengatasnamakan agama untuk melindungi harta warisan dan tanah agar tidak jatuh ke pihak calon suami anak perempuannya. Qaisra Shahraz menggambarkan kepedihan Shahzada, ibu Zarri Bano, saat menanggapi penobatan putrinya menjadi seorang Shahzadi Ibadat dalam kalimat-kalimat berikut ini.
“Tanah mewakili kesuburan. Bagi keluargaku dan anak perempuanku, tanah berarti kehancuran dan ketidaksuburan. Untuk menjaga agar tanah ini tetap menjadi milik keluarga, putriku ditakdirkan untuk selamanya perawan dan tak berputra. Dia harus mengingkari kebahagiaan seorang ibu; kedua tangannya tidak akan pernah merasakan kebahagiaan merengkuh seorang bayi yang baru dilahirkan ke dadanya.”
(PS, hlm.74—75)
Secara garis besar, novel ini memaparkan peliknya realitas seorang perempuan yang hidup di tengah kungkungan tradisi yang dibangun oleh laki-laki. Dalam novel ini, tergambar bahwa masih banyak praktik di masyarakat yang membuat perempuan tidak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Ketika Zarri Bano memilih untuk melepaskan Sikander demi menuruti perintah ayahnya yang memegang kuat tradisi, sejatinya ia telah melakukan suatu pengorbanan yang jauh lebih hebat daripada keperempuanannya sendiri. Ia sudah menukarkan cintanya demi adat istiadat keluarganya.Laki-laki dalam novel ini memegang dominansi dalam segala hal dan dianggap sebagai imam yang tidak bisa ditentang segala keputusannya. Sebagai perempuan, baik itu sebagai anak atau istri, tidak pantas untuk menentang keputusan yang diambil ayah atau suami. Zarri Bano yang selama ini berjiwa bebas dan mandiri akhirnya pasrah mengikuti keinginan ayahnya. Shahzada juga tidak kuasa memohon pada suaminya agar membatalkan keputusan itu. Habib justru mengancam akan menceraikan Shahzada talak tiga sekaligus, jika istrinya tersebut menolak penobatan Zarri Bano serta tetap mendukung pernikahan Zarri Bano dan Sikander.

Ketidakberdayaan ibu dan anak tersebut digambarkan secara gamblang dalam kalimat-kalimat berikut.

“Sebagai seorang perempuan, dia tidak memiliki kekuatan apa pun—pendapatnya tidak berarti. Hukum berlaku di antara mereka: kata-kata kaum lelaki adalah perintah, dan mereka dilahirkan untuk dipatuhi. Mereka memiliki kemampuan khusus dalam hal memberi dalih sehingga segalanya terdengar begitu meyakinkan. Di hadapan kezaliman mereka yang dengan tebal tersamarkan itu, perempuan tidak akan pernah bisa berharap menang atau menantang mereka. Mereka selalu selangkah di muka dan sangat cekatan dalam hal itu.
Zarri Bano tidak akan mempunyai kesempatan. Dia akan hancur melawan benteng tirani patriarkat ini. Bahkan dengan kebeliaannya, feminisme, dan pendidikan universitas yang dikenyamnya, dan dengan kepribadiannya yang ramah, dia tetap akan digariskan untuk menjadi seorang pecundang dalam permainan kekuasaan kaum lelaki ini.
Seperti juga ibunya, dia sudah dididik sejak bayi untuk menghormati dan memuja setiap keinginan ayahandanya dan siapa pun lelaki yang dituakan dalam keluarga mereka. Menentang salah satu keputusan mereka akan dianggap sebagai pembangkangan tingkat tinggi dan sebuah tanda dari gangguan moral dan sosial, sebentuk pemberontakan yang oleh para tetua akan dianggap harus dimusnahkan sesegera mungkin dan dengan sebentuk perlakuan hingga dia tidak akan pernah bisa meninggikan kepalanya yang buruk itu lagi.”
(PS, hlm.79)
Meskipun nuansa feminisme begitu kental di keseluruhan kisah, Qaisra Shahraz tidak lantas menyudutkan para tokoh lelakinya dengan membabi buta. Pembaca tidak dibujuk untuk memandang penuh kebencian pada kaum lelaki atas “penindasan atas nama agama dan tradisi” yang dilakukan mereka terhadap kaum perempuan. Habib dan ayahnya, Siraj Din, digambarkan sebagai manusia biasa yang pada akhirnya berdamai dengan keadaan dan mengalami perubahan pola pikir seiring waktu.Banyak hikmah yang bisa diambil setelah selesai membaca novel ini. Melalui peran Shahzadi Ibadat yang disandang Zarri Bano, misalnya, Qaisra Shahraz menunjukkan kebanggaan seorang perempuan yang menemukan kembali keteguhan keyakinan agamanya dan martabat pribadinya melalui jilbab. Melalui tokoh-tokoh Kaniz, Fatima, Khawar, dan Firdaus, tampak adanya tuntutan bahwa semua orang sama, harus dihormati, dan memiliki harga diri. Semua orang tanpa kecuali harus diperlakukan dengan seadil mungkin, termasuk mereka yang dianggap sebagai masyarakat kelas bawah. Selain itu, masih banyak lagi hikmah yang tersebar di dalam novel ini, yang dikemas begitu apik, menyentuh, mengharukan, dan menakjubkan. Niscaya novel ini akan membuat Anda takbisa berhenti membaca kata demi kata, membuka lembar demi lembar hingga halaman terakhir ditutup.

* burqa: pakaian berbentuk selubung berwarna hitam, menutupi tubuh perempuan dari ubun-ubun hingga ujung kaki, dan hanya menyisakan segaris lubang di bagian matanya; jilbab panjang yang menutupi seluruh tubuh; ada yang menutupi muka, ada yang tidak; Zarri Bano menggunakannya tanpa tutup muka

Reviewer : Rosi
Jun
14
Judul : Hujan Bulan Juni
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : PT Grasindo
Tahun : Cetakan Kedua, September 2003
Tebal : x + 110 hlm.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Larik-larik sajak di atas tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta puisi ataupun yang menggunakannya sebagai rayuan bagi sang pujaan hati ;). Sajak berjudul “Aku Ingin” ini merupakan satu di antara 96 puisi yang dimuat di buku kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”. Sang penulis, Sapardi Djoko Damono, juga sama sekali bukan nama baru dalam sejarah kesusasteraan Indonesia. Pesyair—yang juga menulis esai dan cerpen—ini pernah menerima Anugerah Puisi Putera dari Malaysia (1983), Hadiah Sastra ASEAN (1986), dan Hadiah Seni dari Pemerintah RI (1990). Sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Prancis, Urdu, Hindi, Jerman, dan Arab, serta diterbitkan dalam berbagai bunga rampai dan majalah di negara-negara bersangkutan.
Di bagian Pengantar, Sapardi mengungkapkan bahwa sajak-sajak dalam buku ini dipilih dari sekian ratus sajak yang dihasilkannya selama 30 tahun, antara 1964 sampai dengan 1994. Sebagian besar sajak dalam buku ini pernah terbit dalam beberapa kumpulan sajak, sejumlah sajak pernah dimuat di koran dan majalah, satu-dua sajak belum pernah dipublikasikan. Ia pun mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku, meski ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai unsur pengikat itu.
Membaca sebuah kumpulan sajak memang tidak dapat disamakan dengan membaca sebuah kumpulan cerpen atau sebuah novel. Bukan hal yang mudah untuk menafsirkan dan mencerna maksud yang ingin disampaikan si pesyair melalui sajak-sajaknya. Dibutuhkan sensibilitas alias kepekaan hati yang jauh lebih besar kapasitasnya dibanding ketika membaca genre karya sastra lainnya. Karenanya, interpretasi tiap pembaca pastilah bermacam-macam. Interpretasi Anda terhadap sajak A, belum tentu sama dengan interpretasi saya terhadapnya. Saat membaca sebuah sajak, sebagai pembaca kita hanya dapat meraba-raba, menebak-nebak, berusaha mendekati makna sesungguhnya dari keseluruhan isi. Namun, sejatinya, tetap saja hasil tafsiran tiap-tiap pembaca tidak lain merupakan tafsiran yang disesuaikan—secara sadar ataupun tidak—dengan pengalaman hidup si pembaca sendiri.
Sapardi dalam buku kumpulan sajaknya yang satu ini juga seolah mengajak para pembacanya untuk melakukan sebuah pengembaraan imajinasi. Di sebagian besar sajaknya, dengan perantara unsur-unsur alam, baik berupa metafora maupun personifikasi, kata-kata menjadi bermakna padat. Berbagai tema disajikan, seperti tentang kematian (antara lain dalam sajak “Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati” [lelaki tua yang rajin itu mati hari ini; sayang bahwa ia tak bisa// menjaga kuburnya sendiri], “Saat Sebelum Berangkat”, “Iring-iringan di Bawah Matahari”, “Dalam Kereta Bawah Tanah, Chicago”, dan “Ajaran Hidup”), masa tua (antara lain dalam sajak “Lanskap”), masa kecil (antara lain dalam sajak “Di Tangan Anak-Anak”), Tuhan (antara lain dalam sajak “Tiga Lembar Kartu Pos” dan “Tuan”), dan tidak ketinggalan, juga tentang cinta (antara lain dalam sajak “Pertemuan”dan “Benih”).
Hujan dalam sajak-sajak Sapardi di sini tidak dapat begitu saja dimaknai sebagai hujan dalam artian yang sebenarnya, demikian pula dengan matahari, bunga, bulan, angin, kabut, dan unsur-unsur alam lainnya. Hujan bisa saja bermakna suatu keadaan yang kelam (dalam “Percakapan Malam Hujan”), yang ketidakberadaannya memunculkan terang (dalam “Kuhentikan Hujan”), atau bisa pula berbagai hal lainnya. Unsur hujan banyak dimunculkan Sapardi, seperti tampak dalam judul “Hujan Turun Sepanjang Jalan”, “Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang”, “Di Beranda Waktu Hujan”, “Percakapan Malam Hujan”, “Sihir Hujan”, dan “Hujan Bulan Juni”. Penelaahan mengenai makna unsur-unsur alam dalam sebagian besar sajak di buku ini bisa dijadikan sebuah tema menarik untuk bahan pengkajian sastra.
Sebagian besar sajaknya berbentuk seperti prosa, tanpa memedulikan konvensi sajak zaman dulu yang terkesan membatasi keluwesan bersajak. Bentuk sajak seperti ini tampak kentara, antara lain pada “Catatan Masa Kecil, 1”, “New York, 1971”, “Pada Suatu Pagi Hari”, “Pada Suatu Malam”, dan “Ziarah”. Perpaduan antara kemungkinan-kemungkinan prosa dan puisi telah memungkinkannya menciptakan suatu bentuk yang luwes, dan ketelitian serta keterampilan yang merupakan ciri kebanyakan sajaknya menunjukkan bahwa ia adalah seorang perfeksionis dalam bentuk maupun bahasa (ungkap Muhammad Hj. Saleh di kulit belakang buku ini).
Anda sudah pernah membaca sebuah buku kumpulan sajak (karangan siapa pun) sebelumnya? Jika belum pernah, buku kumpulan sajak ini bisa menjadi semacam usaha awal untuk mengenali—sampai pada akhirnya menikmati—keindahan sajak. Jika sudah pernah, bisa jadi Anda akan mendapat berbagai pencerahan baru dalam memaknai kehidupan, setiap selesai membaca satu demi satu sajak di dalamnya. Siapa tahu, Anda malah akan terinspirasi untuk mencipta sajak sendiri. Seperti yang dikatakan Goenawan Mohamad tentang sajak-sajak Sapardi: “… bila dibaca pesyair lain akan menimbulkan seru, ‘Mengapa saya tidak menulis seperti itu tentang itu!’ Dengan kata lain, merupakan puisi-puisi yang harus (karena layak) dicemburui”.
Reviewer : Rosi
Mei
21

Judul : Kerudung Merah Kirmizi
Penul
is : Remy Sylado
P
enerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun : Cetakan Ketiga, Maret 2004
Tebal : iv + 616 hlm.; 14 cm x 21 cm
ISBN : 979-9023-72-6

Umumnya, simbol hitam identik dengan kegelapan, kejahatan, keburukan, dan hal-hal lain yang tidak mengenakkan. Sementara simbol putih identik dengan kecemerlangan, kesucian, kebaikan, dan hal-hal lain yang berkebalikan dengan simbol hitam. Konfrontasi antara hitam dan putih inilah yang takpernah henti terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Sisi tersebut dikedepankan Remy dalam novelnya yang satu ini. Sekilas mungkin terdengar klise. Ya, sekilas mungkin terdengar tidak menarik. Basi.

Namun, tahukah Anda, novel Kerudung Merah Kirmizi mendapat penghargaan Hadiah Sastra Khatulistiwa 2002? Penghargaan untuk dunia sastra tersebut diadakan oleh QB World Book dan Manajemen Plaza Senayan. Penyeleksiannya tidak main-main, dilakukan oleh 45 orang juri dan dibagi ke dalam 3 tahap seleksi yang teramat ketat. Konon, Remy berhak atas hadiah uang sebesar Rp 50 juta! Wow, angka nominal yang membuat ngiler, bukan? Tentunya, sebuah karya sastra yang mendapat penghargaan bergengsi seperti ini tidaklah dapat kita pandang sebelah mata. Pasti ada semacam strategi yang digunakan Remy Silado agar ide ceritanya bukan merupakan sesuatu yang klise.

Secara ringkas, dengan mengambil latar waktu pada akhir Orde Baru dan awal reformasi, Kerudung Merah Kirmizi menceritakan kisah cinta Myrna Andriono dengan Luc Sondak (keduanya mewakili simbol putih) dan kelicikan bisnis Oom Sam (mewakili simbol hitam). Myrna adalah seorang janda yang harus menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai penyanyi di sebuah lounge. Perjalanan hidup dan kisah cintanya dengan Luc penuh dengan lika-liku. Di lain pihak, kelicikan Oom Sam dalam usaha untuk mendapatkan tanah milik Laksmi, putri Luc, menjadi hambatan secara tidak langsung terhadap kisah cinta Myrna dengan Luc. Konflik merambat tidak hanya pada tataran sosial, tetapi juga politik, ekonomi, bahkan isu terorisme.

Kondisi kemajemukan masyarakat Indonesia diwakilkan melalui beberapa tokoh di dalam novel ini.

Terkisahlah Myrna sebagai tokoh utama. Beranak dua, menjanda selama tiga tahun, suku bangsa Sunda, menetap di Jakarta. Suaminya, Andriono, seorang pilot, bersama 187 orang penumpang air-bus di Sibolangit. Kemudian muncul Luc Sondak, lelaki berusia 50 tahun lebih, guru besar ekonomi bergelar profesor doktor. Luc merupakan duda beranak satu, suku bangsa Minahasa, menetap di Bali. Mereka dipertemukan di lounge hotel berbintang tempat Myrna bekerja sebagai penyanyi jazz, dan saling jatuh cinta.

Selanjutnya, muncul Emha Isa Ibrahim, mahasiswa dari Yogya yang juga anggota sebuah LSM. Ia berlatar belakang budaya Jawa. Pada zaman Orde Baru, ia melakukan demonstrasi sehubungan dengan kasus dirampasnya tanah rakyat di Bali oleh pihak penguasa untuk dijadikan lapangan golf. Ia ditangkap polisi dan disekap selama 14 hari. Karena dianggap “berbahaya” oleh pihak penguasa, ia dituduh sebagai pembunuh dalam sebuah pertikaian nelayan di Bali yang telah direkayasa sebelumnya.

Dua tokoh terakhir yang juga memegang peranan penting dalam kisah ini adalah Putu Vijay dan Ketut. Keduanya berlatar belakang budaya Bali. Putu Vijay adalah seorang nelayan, pernah di-drop out dari Fakultas Perikanan sebuah universitas di Ujungpandang. Ia menyelamatkan Emha saat Emha berusaha melarikan diri dari sekapan oknum polisi yang telah menuduhnya sebagai pembunuh. Sementara itu, Ketut adalah pembantu di rumah peristirahatan Luc di Bali. Ia pun membantu menyembunyikan Emha untuk sementara dari pencarian oknum polisi tersebut.

Tokoh-tokoh di atas merupakan representasi dari berbagai kelompok etnis di Indonesia. Jika kita berbicara mengenai kelompok-kelompok etnis, niscaya tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan mengenai pluralisme budaya. Dalam Kerudung Merah Kirmizi, tidak hanya ditampilkan pluralisme budaya, tetapi juga sikap masyarakat Indonesia terhadap pluralisme itu sendiri. Hal ini terwakili melalui tindakan beberapa tokoh di dalamnya, misalnya tokoh Luc dengan latar belakang budaya Minahasa dan Bali yang menikahi tokoh Myrna yang berlatar belakang budaya Sunda. Selain itu, juga tokoh Emha dengan latar belakang budaya Jawa diberi pertolongan oleh Putu dan Ketut yang berlatar belakang budaya Bali.

Tindakan-tindakan para tokoh tersebut mencerminkan bahwa perbedaan tidak dijadikan hambatan dalam berinteraksi antarmanusia. Alasannya, karena pada hakikatnya ada sebuah kesamaan yang paling mendasar, yaitu sama-sama merupakan manusia yang memiliki hati nurani. Inilah konsep ideal yang ditawarkan Remy untuk menyikapi pluralisme budaya di Indonesia. Novel ini mendeskripsikan kondisi plural masyarakat Indonesia secara positif bahwa di Indonesia, pluralisme budaya berupa perbedaan suku bukanlah merupakan sebuah kendala yang berarti.

Terlepas dari soal pluralisme, kerudung merah kirmizi itu sendiri merupakan sandangan khas adat yang dipakai masyarakat Rawaselang, Jawa Barat. Warna kirmizi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:443) berarti “merah tua atau ungu”. Dipercaya bahwa kirmizi adalah merah kotor (seperti darah mati), tetapi kita dapat menyaksikan mukjizat melalui orang lain yang memberi kita cinta, yang mengingatkan betapa besar cinta itu dapat mengubahnya menjadi bersih seputih salju.

Ibu Myrna dalam salah satu bagian cerita mengingatkan bunyi bait: (bhs. Sunda) najan dosa manusa nepi ka beureum kawas kirmizi, bakal jadi bodas beresih kawas salju (bhs. Indonesia: walau dosa manusia semerah kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; dari teks bhs. Inggris: thou your sins be as scarlet, they shall be as white as snow). Ketika Myrna memberitahu ibunya bahwa Luc telah melamar Myrna, ibunya memberinya sehelai kerudung merah kirmizi. Kerudung itu wajib dipakai oleh Myrna dan baru boleh tidak dipakai lagi jika Luc benar-benar sudah menikahinya. Dalam keseluruhan cerita, kirmizi yang menyimbolkan cinta ini memang memegang peranan penting. Sewaktu terjadi konfrontasi antara simbol hitam dan simbol putih, simbol kirmizi menengahi dan memberi bumbu sehingga cerita terasa lebih “sedap”.

Jika kita mengutip perkataan H.B. Jassin, bahwa karya sastra yang baik adalah enak dibaca dan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya tidak terbantahkan kebenarannya, novel Kerudung Merah Kirmizi ini sepertinya sudah memenuhi kriteria itu. Adanya catatan kaki yang tersebar di sana-sini juga sangat berguna sebagai pemberi informasi mengenai lagu jazz, puisi para penyair Arab, dan terjemahan bahasa-bahasa daerah (bahasa Sunda, Jawa, dan Bali) yang banyak dimunculkan Remy melalui percakapan tokoh-tokohnya. Gaya penceritaan Remy pun mengalir lancar, ringan, meski terkadang ia memakai kata-kata dalam bahasa Melayu yang mengharuskan pembaca membuka kamus untuk mencari artinya.

Ngomong-ngomong, tahun 2001 lalu, satu dari sekian banyak novel Remy Silado, yaitu Ca Bau Kan, diangkat ke layar lebar oleh sutradara Nia Dinata dan bisa dikatakan sukses. Menurut saya, novel Kerudung Merah Kirmizi ini kurang cocok untuk diangkat ke layar lebar seperti Ca Bau Kan. Yang ini sepertinya lebih bagus jika dibuat versi sinetron-nya. 🙂 Cerita yang penuh intrik, karakter-karakter yang tergambarkan secara natural, dan peristiwa-peristiwa yang sarat dengan ketegangan juga “kebetulan” yang seringkali terkesan dipaksakan, sudah sangat memenuhi standar per-sinetron-an Indonesia. Niscaya walau dikemas dalam ratusan episode pun, sinetron Kerudung Merah Kirmizi akan meraih rating yang tinggi!

Reviewer : Rosi

Mei
11

Judul : Filosofi Naif (Kehidupan Dunia Cyber)
Penulis : Onno W.Purbo
Penerbit: Republika
Halaman : v+146 hlm
Dimensi : 11,5cm x 17,5cm
ISBN : 979-3210-08-7

Jadilah orang yang merdeka dengan internet. Kesan itulah yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Memang, arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang (terlalu) cepat menjadikan paradigma masyarakat terhadap berbagai hal berubah. Hal-hal yang dulu relevan, saat ini tidak lagi. Dengan filosofi-nya yang memang sederhana (naif), Onno W.Purbo berusaha menyampaikan kritik dan masukan terhadap berbagai macam ‘sistem’ yang dianut oleh bangsa Indonesia. Utamanya pendidikan dan paradigma bermasyarakat, juga menyinggung hanya sedikit tentang politik. Melalui buku ini juga beliau menyuarakan pentingnya peranan komunitas dalam proses pembelajaran, karena biasanya terjadi suatu interaksi atau transfer ilmu dalam bentuk diskusi yang bisa mempercepat proses pembelajaran.

Agar dapat survive, setiap orang dituntut untuk bisa sejalan dengan pesatnya percepatan informasi. Untuk itu, setiap orang dituntut untuk memiliki mobilitas yang tinggi dan akses terhadap informasi. Internet mampu memberikan itu. Hampir-hampir tidak ada batasan dalam internet. Satu-satunya yang membatasi adalah etika yang berlaku dalam berinteraksi dengan orang lain, atau biasa disebut netiket. Sialnya banyak yang belum mengetahui apalagi memahami tentang netiket ini.

Percaya atau tidak, dalam internet hak-hak setiap orang begitu dihormati dan suara setiap orang didengarkan. Semua orang setara. Gelar, jabatan dan strata sosial tidak berlaku di sini. Bukan hal yang mustahil jika kemudian polisi ‘bersahabat’ dengan penjahat di sini, profesor berdebat dengan lulusan SD, atau bahkan guru yang diajari muridnya. Satu-satunya yang dihargai di internet adalah kemampuan, tidak peduli seburuk apapun wajah seseorang atau serendah apapun pendidikan seseorang. Selama dia memiliki solusi terhadap suatu masalah, dia akan dihargai di internet. Maka, kemudian muncul pemimpin-pemimpin yang terpilih secara alami. Hal ini biasanya terjadi dalam suatu komunitas yang tergabung dalam mailing list. Pemimpin-pemimpin ini tidak terpilih melalui PEMILU dan mengkampanyekan dirinya. Namun, ‘warga’-lah yang menyematkan mahkota itu sebagai pengakuan terhadap kemampuannya yang lebih. Seseorang menjadi pemimpin, karena memang dia layak menjadi pemimpin. Onno W. Purbo sendiri adalah seorang pemimpin di dunia internet, setidaknya bagi dunia internet di Indonesia.

Bagaimana seseorang menjadi pemimpin? Dengan cara berbagi, utamanya berbagi ilmu atau informasi, karena internet memang tempatnya informasi. Oleh sebab itu, hak cipta, Undang-undang HAKI atau proteksi apapun terhadap pengetahuan (informasi) menjadi tidak relevan karena tidak sesuai dengan semangat untuk berbagi. Dalam internet juga berlaku hukum Tuhan. Siapa beramal, dia mendapat pahala. Siapa berbagi, dia akan mendapatkan lebih banyak dari apa yang dibagikannya. Masuk akal jika kemudian orang-orang atau organisasi yang membagikan pengetahuannya begitu dicintai di internet. Maka tidak salah jika Yahoo!, Google, Apache Web Server, PHP, Linux atau apapun yang Open Source menjadi besar di internet. Kenyataannya, dengan berbagi, nama-nama itu tidak menjadi miskin, malah mendapatkan semakin banyak keuntungan dan semakin populer.

Jika selama ini kita memandang bahwa status sosial dilihat dari jabatan atau pekerjaan tertentu di kantor, siap-siaplah untuk kecewa. Dengan adanya internet, pekerjaan yang terikat jam kerja, ruang kantor dan peraturan-peraturan sudah tidak lagi sesuai. Sudah saatnya suatu pekerjaan dinilai dari efektifitasnya. Tidak menjadi soal dikerjakan kapan dan di mana pun, yang paling penting pekerjaan itu selesai. Dengan cara ini, perusahaan bisa menekan banyak biaya sebetulnya. Sialnya orang-orang yang menggeluti hidup seperti itu masih dicap negatif dari masyarakat, karena terkesan pengangguran. Onno W.Purbo pun mengakui adanya kesan tersebut. Masih diperlukan waktu lebih lama untuk menyosialisasikan paradigma semacam ini, yang paling penting kita bisa senantiasa mengomunikasikannya (mengedukasi). Setelah berhenti jadi dosen di ITB, beliau pada akhirnya hidup ‘menggelandang’. Tidak ada kantor, tidak ada jabatan, pun pekerjaan yang spesifik. Beliau ‘bekerja’ di rumahnya saja yang sebagian besar waktunya digunakan untuk berinternet ria. Small Office Home Office (SOHO), begitu sebutannya.

Dalam banyak hal, dunia internet bisa memanusiakan kembali manusia yang sejatinya adalah merdeka. Tidak ada penjajahan di dalam internet, semua orang merdeka. Mungkin internet itulah penjajahnya. Orang-orang yang dicintai adalah yang lebih banyak memberikan manfaat, begitu juga yang dibenci adalah yang paling mengganggu. Satu-satunya yang membatasi perilaku seseorang sehingga tidak ‘berlebihan’ di internet adalah norma-norma yang tidak tertulis (konsensus). Bagi sebagian orang, norma-norma itu adalah keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah. Saat ini, mungkin hanya di internet saja prinsip-prinsip agung seperti kejujuran dan keadilan berjalan sebagaimana mestinya.

Secara pribadi, saya meng-amin-kan keseluruhan isi dari buku ini. Mungkin karena saya juga memiliki cara pandang, semangat dan keresahan yang sama dengan beliau, sehingga apa yang ada di buku ini cepat saya pahami. Selain itu juga karena memang gaya tulisan dan penyampaiannya yang ringan, siapapun akan mudah memahami isi buku ini. Onno W. Purbo memang langka menulis buku semacam ini, meskipun sebetulnya isi atau ide dari buku ini ‘terselip’ di tulisan-tulisannya yang dibagikan secara gratis di situs http://www.bogor.net/idkf. Saya juga merasakan semangat yang sama dalam ceramah di seminar-seminar yang saya ikuti. Jika anda mengikuti seminarnya, siap-siap saja dengan hard disk kosong minimal 13 GB, beliau akan membagikan materi-materi pengetahuan yang dimilikinya. Dalam banyak hal, beliau menginspirasi saya, juga melalui buku ini.

Saya merasa sangat beruntung, setelah lama mencari, akhirnya saya bisa memiliki buku ini. Laik beli dan laik baca. Di toko buku sebesar Gramedia pun buku ini sudah ditarik dari peredaran. Saya merasa perlu berterima kasih kepada pihak penyelenggara Islamic Book Fair 2007, di Be Mall, Bandung. Juga penerbit Republika yang memberi potongan 50% untuk buku ini sehingga akhirnya saya bisa mendapatkan buku ini, dengan harga yang murah meriah pula.

Reviewer : Donny