KataPengantar
Bicara tentang Buku, Musik dan Film

Kumpulan Catatan Seorang Nenek untuk Cucunya

Judul : Pergilah ke Mana Hati Membawamu
Penulis : Susanna Tamaro
Penerjemah : Antonius Sudiarja
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : April 2004
Tebal : 216 hlm.; 23 cm
ISBN : 979-22-0801-1
“Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau taktahu jalan mana yang harus diambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.” (PKMHM, hlm.215)Novel ini berkisah tentang Olga, seorang perempuan tua yang telah dua bulan ditinggalkan cucunya ke Amerika. Olga tidak mengetahui tempat cucunya berada. Sang cucu pun tidak mengetahui bahwa neneknya baru saja terkena serangan jantung dan kemungkinan hidup neneknya tidak lama lagi. Namun, Olga memutuskan untuk tidak meminta cucunya pulang. Ia malah menulis semacam buku harian yang berisi segala “pengakuan” tentang dirinya. Seluruh muatan batin yang terpendam diungkapkannya, baik kisah hidup, masa lalu, perasaan-perasaan, cinta, kekecewaan, kesepian, penderitaan, maupun penyesalannya terhadap cucunya. Olga berharap jika kelak cucunya pulang dan ia sudah lebih dulu meninggal dunia, sang cucu akan membaca buku hariannya tersebut dan bisa memahami dirinya.
Dengan alur flashback (kilas balik), Olga bertutur mengenai banyak hal: penderitaannya sebagai perempuan di tengah keluarganya; kisah pernikahannya dengan Augusto yang hanya dilakukan untuk mengikuti tradisi; tentang Ernesto yang merupakan kekasih gelap sekaligus cinta sejatinya; tentang Ilaria, putrinya, yang merupakan seorang pemberontak dan feminis radikal; tentang penderitaan ibu Olga dan neneknya yang berimbas pada pembentukan kepribadian Olga; dan kenangannya yang indah selama hidup bersama cucunya. Dengan sangat hati-hati, Olga menuliskan hal-hal yang sangat peka yang menyangkut hubungan-hubungannya di masa lalu, dengan cucunya dan dengan orang lain, dengan kejujuran yang diperhitungkan agar tidak membuat luka yang baru.
Olga memang sedang berjuang untuk bersikap jujur. Selama tujuh belas tahun, ia berbohong dan menutup mulut, mengenai percintaannya dengan Ernesto, mengenai ayah kandung Ilaria, serta mengenai ayah kandung cucunya. Karena sikap diamnya ini, Olga merasa dirinya pembohong. Akibatnya, Ilaria marah ketika Olga tanpa sadar memberitahu Ilaria mengenai ayah kandungnya, hal yang telah begitu lama menjadi rahasia Olga. Dengan menceritakan sebuah dongeng, Olga pun berbohong kepada cucunya bahwa ayah anak itu adalah pangeran dari negeri “Bulan Sabit” (Turki). Padahal, entah siapa ayah kandung sang cucu karena Ilaria sebagai seorang feminis radikal menjalin hubungan dengan begitu banyak pria. Saat ini, Olga merasa sudah tiba waktunya untuk mengungkapkan kejujuran itu kepada cucunya tercinta.
Perbedaan usia antara Olga dan cucunya sangat jauh sehingga perbedaan pendapat dan perilaku mereka sangatlah besar. Olga menganggap perbedaan di antara mereka sangat alami, seperti pohon yang sama, tetapi berbeda musimnya. Ketika cucunya masih kecil, Olga merasa bahagia sebab cucunya masih menyenangkan. Banyak kenangan indah dan mengharukan bersama cucunya yang masih tersimpan dalam hatinya. Namun, ketika sang cucu beranjak dewasa, kegembiraan dan ketenangan itu hilang. Di antara mereka muncul ketegangan yang sulit didamaikan. Karena itu, melalui buku harian berisi segala “pengakuan” yang ditulisnya ini, Olga memohon pada cucunya agar ia dipahami dan dimaafkan. Ia berharap cucunya tidak mengadili kesalahan-kesalahannya di masa lalu, tetapi mengampuninya. Ia berharap, pada akhirnya, cucunya dapat mengikuti kata hatinya sendiri, untuk pergi ke mana pun hati sang cucu membawanya.
*
Dalam keseluruhan isi novel ini, secara lugas dan manusiawi Tamaro mengisahkan Olga, seorang perempuan tua yang merasa telah begitu dekat dengan ajal dan khawatir tidak sempat bertemu dengan cucunya untuk mengakui segala hal yang terpendam dalam hatinya. Dengan menggunakan gaya naratif yang sederhana, Tamaro menggambarkan karakter para tokohnya secara teramat gamblang dan mendalam. Alur cerita mengikuti teknik penulisan surat yang panjang; sebuah pengakuan yang tenang dan mesra mengenai kehidupan, pengalaman, serta identitas si perempuan tua. Gaya narasi mengikuti irama buku harian dan merupakan deskripsi kehidupan sepanjang perjalanannya, dalam berbagai tahap melalui ingatan dan perasaan yang hidup dan masih segar, melalui penyesalan, kelembutan hati, dan cinta, juga kekuatan, kerapuhan, serta kesadaran seorang manusia yang selalu mencari kebenaran. Akhirnya, si tokoh dapat mendengar suara hati, satu-satunya yang bisa memberikan petunjuk yang benar kala menghadapi persimpangan pilihan hidup yang membingungkan dan menyesatkan.
Ketika novel Va’ dove ti porta il cuorePergilah ke Mana Hati Membawamu ini mendapatkan penghargaan Donna Citta di Roma dan menjadi best seller internasional pada tahun 1994, Susanna Tamaro telah menulis empat novel lainnya. Novel ini merupakan buku Italia terlaris abad lalu yang diangkat ke layar lebar pada tahun 1955 oleh sutradara Cristina Comencini. Di Indonesia, novel ini sendiri pada mulanya dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas. Mengutip ulasan Prof.Ostelio Remi, Direktur Pusat Kebudayaan Italia, Atase Kebudayaan Kedutaan Italia, Jakarta, di bagian Pengantar, novel ini memang sangat dianjurkan untuk dibaca oleh Anda yang memberikan ruang bagi hati untuk membuat pilihan dan ruang bagi perasaan dalam hubungan antarmanusia. Selain itu, novel ini pun memberikan pengetahuan baru mengenai perempuan dari sudut pandang yang berbeda-beda dan juga peran yang berlainan: perempuan sebagai seorang anak, seorang istri, seorang ibu, sekaligus seorang nenek.
Reviewer : Rosi
Iklan

Satu Tanggapan to “Kumpulan Catatan Seorang Nenek untuk Cucunya”

  1. waaah… mbak, mau dong request. resensiin istana keduanya mbak asma ya. bagus euy. temanya poligami gituh. ehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: